Prosa
Nama : Siti Ramayanti
Kelas : X MIPA 4
Tugas : Bahasa Indonesia
>>><<<
- Hikayat merupakan sebuah tulisan fiktif dan tidak masuk dengan akal yang menceritakan tentang kehidupan para dewi, dewa, pangeran, raja, dan lain-lain.
- Sejarah (tambo) adalah salah satu bentuk prosa lama yang isi ceritanya diambil dari suatu peristiwa sejarah. Cerita yang diungkapkan dalam sejarah bisa dibuktikan dengan fakta. Selain berisikan peristiwa sejarah, juga berisikan silsilah raja-raja. Sejarah yang berisikan silsilah raja ini ditulis oleh para sastrawan masyarakat lama.
- Kisah adalah cerita tentang cerita perjalanan atau pelayaran seseorang dari suatu tempat ke tempat lain.
- Dongeng adalah suatu cerita yang bersifat khayal. Perkembangan dongeng terjadi di dalam masyarakat lama. Dongeng sendiri banyak ragamnya, yaitu sebagai berikut:
- Fabel, adalah cerita lama yang menokohkan binatang sebagai lambang pengajaran moral (biasa pula disebut sebagai cerita binatang).
- Mite (mitos), adalah cerita-cerita yang berhubungan dengan kepercayaan terhadap sesuatu benda atau hal yang dipercayai mempunyai kekuatan gaib.
- Legenda, adalah cerita lama yang mengisahkan tentang riwayat terjadinya suatu tempat atau wilayah.
- Sage, adalah cerita lama yang berhubungan dengan sejarah, yang menceritakan keberanian, kepahlawanan, kesaktian dan keajaiban seseorang.
- Parabel, adalah cerita rekaan yang menggambarkan sikap moral atau keberagaman dengan menggunakan ibarat atau perbandingan.
- Dongeng jenaka, adalah cerita tentang tingkah laku orang bodoh, malas atau cerdik dan masing-masing dilukiskan secara humor.
- Cerita berbingkai adalah cerita yang di dalamnya terdapat cerita lagi yang dituturkan oleh pelaku-pelakunya.
- Roman adalah bentuk prosa baru yang mengisahkan kehidupan pelaku utamanya dengan segala suka dukanya. Roman mengungkap adat atau aspek kehidupan suatu masyarakat secara mendetail dan menyeluruh, alur bercabang-cabang, banyak digresi (peraturan). Berdasarkan kandungan isinya, roman dibedakan atas beberapa macam, antara lain sebagai berikut:
- Roman transendensi, yang di dalamnya terselip maksud tertentu, atau yang mengandung pandangan hidup yang dapat dipetik oleh pembaca atau kebaikan.
- Roman sosial adalah roman yang memberikan gambaran tentang keadaan masyarakat.
- Roman sejarah yaitu roman yang isinya dijalin berdasarkan fakta historis, peristiwa-peristiwa sejarah, atau kehidupan seorang tokoh dalam sejarah.
- Roman psikologis yaitu roman yang lebih menekankan gambaran kejiwaan yang mendasari segala tindak dan perilaku tokoh utamanya.
- Roman detektif merupakan roman yang isinya berkaitan dengan kriminalitas.
- Novel berasal dari Italia. yaitu novella `berita`. Novel adalah bentuk prosa baru yang melukiskan sebagian kehidupan pelaku utamanya yang terpenting, paling menarik, dan yang mengandung konflik.
- Cerpen adalah bentuk prosa baru yang menceritakan sebagian kecil dari kehidupan pelakunya yang terpenting dan paling menarik. Di dalam cerpen boleh ada konflik atau pertikaian, akan tetapi hal itu tidak menyebabkan perubahan nasib pelakunya.
- Riwayat (biografi), adalah suatu karangan prosa yang berisi pengalaman-pengalaman hidup pengarang sendiri (autobiografi) atau bisa juga pengalaman hidup orang lain sejak kecil hingga dewasa atau bahkan sampai meninggal dunia.
- Kritik adalah karya yang menguraikan pertimbangan baik-buruk suatu hasil karya dengan memberi alasan-alasan tentang isi dan bentuk dengan kriteria tertentu yang sifatnya objektif dan menghakimi.
- Resensi adalah sebuah tulisan yang merangkum atau mengulas sesuatu karya, baik buku, seni, musik, film, atau karya lainnya. Resensi dapat memberikan sudut pandang tentang baik dan buruknya karya tersebut. Dengan kata lain, resensi dapat memberikan gambaran untuk mempertimbangkan apakah kita dapat menikmati karya tersebut atau tidak.
- Esai adalah ulasan/kupasan suatu masalah secara sepintas lalu berdasarkan pandangan pribadi penulisnya.
Identitas Buku
Judul Buku : god, do you speak english ?
Pengarang : Nina silvia, Jeff kristianto, Rini hanifa
Penerbit : Rene Books
Tahun terbit : tahun 2013
Jumlah halaman : 348 halaman
Sinopsis buku
Buku ini mencerintakan mengenai para penulis yang mana mereka mengunjungi berbagai tempat- tempat menarik. Tiga penulis in merupakan anggota sukarelawan dari sebuah lembaga sukarelawan VSO atai Internasional Voluntary Service Organozation yang ada di Indonesia. Mereka ialah Nina silvia, Jeff kristanto dan juga Rini hanifa.
Mereka ini datang dari aneka ragam latar belakang. Jeff adalah seorang pemilik usaha dari sebuah kerjinan serta tempat makan yang ada di Bali. Nina merupakan seorang pekerja yang ada di sebuah LSM atau lembaga swadaya masyarakat yang ada di kota Padang. Sedangkan Rini merupakan salah satu staf lembaga donor yang international.
Ketiga orang ini memang bergabung menjadi sebagai volunteer VSO, yang menjadi angkatan pertama dari voluntir di Negara Indonesia yang berada di masing- masing Negara penempatan.
Jeff merupakan seorang pekerja yang mana mendukung para pengrajin yang ada Taikistan, yang merupakan bekas dari Negara jajahan Uni Soviet yang ada di Asia. Nina merupakan orang yang membantu lembaga pendukung untuk suku asli yang ada di Bangladesh. Sedangkan untuk Rini di tugaskan di Guyana yang tepatkan ada di Amerika Latin untuk menjalin kerj sama dengan LSM lokal.
Mereka ini bekerja dengan gaji sesuai dengan standar dimana penempatan Negaranya. Itulah sebabnya, mereka akan selalu beriteraksi dengan masyarakat di sekitar sehingg mengalami kejadian dan cerita- cerita yang lucu serta mengharukan.
Itulah sebanya, buku ini bukan hanya sekedar menceritakan tapi seolan memiliki warna dan juga nyawa. Ketiga penulis ini merupakan bagian dari cerita yang ada di buku sendiri. maka, mereka ini menceritakan sesuatu yang sesuai dengan apa yang mereka rasakan yakni bertualang.
Kelebihan dari buku
- Buku ini memang sangat menarik bahkan dari segi judul, karena menggunakan nama Tuhan di judulnya.
- Ketiga penulis ini membuat sebuah cerita yang menginspirasi.
Kekurangan dari buku
- Buku ini terdapat beberapa tulisan yang merupakan istilah atau menggunakan kalimat yang asing sehingga banyak dari orang awam yang tidak paham dengan kalimatnya.
- Nina silvia membuat sebuah cerita seolah memang seperti bernarasi, hal ini menjadikan beberapa pembaca juga akan merasa lelah dan juga jenuh jika mengikuti alur dari cerita terebut.
Menyetiai Siswa Miskin
Sudah jelek, miskin, kurang cerdas, dan hidup lagi! Begitulah Tukul sering berolok-olok. Anak-anak seperti itulah yang dari tahun ke tahun memenuhi sekolah-sekolah yayasan kami. Apakah mesti merasa sial mengelola sekolah semacam ini? Adakah alasan untuk menyetiai siswa-siswanya?
Untuk apa sekolah dibangun? Ini pertanyaan penting dalam menyikapi realitas sekolah kami yang sebagian besar dipenuhi anak-anak miskin. Sekolah adalah ruang mengolah hidup. Di sekolah seseorang ditumbuhkembangkan kepribadiannya. Jadi semestinya tak masalah dengan anak macam apa pun di sekolah, termasuk yang ringkih modal hidupnya. Namun, jujur saja, tidak mudah menyetiai siswa macam ini.
Siswa yang miskin, lusuh, kurang cerdas lagi, sering disikapi sebagai kesialan. Sesungguhnya yang lebih sial adalah ketika mereka tidak mendapat kesempatan mengolah hidupnya dengan belajar di sekolah. Anak-anak semacam itulah yang banyak penulis jumpai di kelas.
Mereka adalah representasi anak bangsa yang dikalahkan karena kemiskinan. Untung saja yayasan berkomitmen memberi ruang bagi mereka. Kami berharap sekolah kami memberi kesempatan bagi tumbuh kembangnya kepribadian mereka.
Kemiskinan menjadikan mereka kurang cerdas. Sebagian besar dari mereka adalah lulusan sekolah yang tak memiliki tradisi studi yang baik. Jadi tak mudah mengajak mereka bertekun di kelas. Oleh karena itu, kami sadar terlalu berat menggusur prestasi siswa sekolah favorit yang leluasa merekrut anak-anak cerdas, berkecukupan, dan memiliki tradisi studi yang baik.
Satu hal yang kami perjuangkan adalah menghentikan ”kesialan” jalan hidup anak-anak kami. Kalau ada satu dua lulusan kami yang akhirnya bisa bersaing dengan anak-anak dari sekolah favorit, itu sudah luar biasa.
Kalau ada anak-anak kami yang lulus dengan kesadaran pentingnya peduli terhadap perjuangan nasib diri sendiri, itu menjadi kepuasan kami sebagai pendidik. Kami pandang mereka telah menyingkap tempurung hidupnya karena kemiskinan. Bukankah ini hakikat pendidikan yang berjuang menyingkap keterbelengguan diri?
Bagi kami yang telah lama bergulat dengan anak-anak miskin, ada banyak pergulatan hidup sebagai pendidik selama mendampingi mereka. Seorang sahabat kami dibuat menangis ketika siswinya tak mau ikut ujian karena lebih memilih bekerja demi menghidupi keluarganya.
Sahabat lain merasakan kebermaknaan sebagai pendidik ketika menjemput paksa sejumlah siswa agar mau mengikuti ujian meski belum melunasi uang sekolah.
Yang lain lagi merasa lega ketika semua siswanya bisa mengikuti ujian meski untuk itu ia harus mengemis kepada para donatur demi biaya ujian para siswanya. Ada juga yang bersyukur sekaligus geli karena beberapa kali harus rela menjual burung peliharaan untuk biaya akomodasi lomba para siswanya.
Pada realitas semacam itu, anak-anak miskin di sekolah sesungguhnya menjadi penuntun dalam pergulatan hidup seorang guru. Mereka seperti menciptakan outbound bagi tumbuh kembangnya jiwa kami sebagai pendidik. Mereka ”memaksa” kami untuk mengajar dengan cara sesederhana dan sekreatif mungkin. Lemahnya daya nalar serta rendahnya daya tahan untuk bertekun di kelas mendidik kami untuk semakin sabar.
Anak-anak itu membantu kami melompati batas-batas hidup (boundaries of life) sebagai pendidik. Mereka adalah penolong kami yang nyata untuk menjumput kebermaknaan hidup sebagai pendidik. Bersama anak miskin, kami tidak hanya menjadi guru yang mengajarkan pengetahuan. Lebih dari itu mereka membantu kami belajar menjadi manusia yang sempurna.
Meski demikian, tak banyak guru yang sempat menjumput kebermaknaan hidup bersama siswa-siswanya yang miskin. Banyak guru dari sekolah kaya lagi favorit tak rela pindah ke sekolah miskin. Mereka merasa dibuang ketika dimutasi ke sekolah miskin. Pasalnya, di sekolah miskin pendapatan mereka di luar gaji pokok menurun drastis, tak ada kegagahan fisik, juga tak lagi berjumpa para murid menarik.
Arus hedonisme, konsumerisme, dan pragmatisme telah menggusur idealisme banyak guru. Semua diukur dengan uang dan kemutakhiran fasilitas. Apalagi tahun-tahun ini perhatian guru sering dimobilisasi oleh gaji dan beragam tunjangan. Dinamika pendidikan yang lebih menyeruakkan penampilan semacam bangunan gedung dan beragam kegiatan mewah membuat guru tak lagi menjumput pergulatan sebagai pendidik. Sekolah miskin pun menjadi kesialan.
Komentar
Posting Komentar