Unsur Intrinsik dalam Sastra
Kelas : XII MIPA 4
Mata Pelajaran : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Unsur Intrinsik dalam Sastra
Menurut Nurgiyantoro (2010:23) dalam bukunya “Pengkajian Prosa Fiksi” unsur-unsur intrinsik ialah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Unsur-unsur inilah yang menyebabkan karya sastra hadir sebagai karya sastra, unsur-unsur yang secara faktual akan dijumpai jika orang membaca karya sastra. Unsur-unsur intrinsik yang dimaksud meliputi tema, alur/plot, tokoh dan penokohan, setting/latar, sudut pandang, gaya bahasa, dan amanat.
1. Tema
Nurgiyantoro (2010:25) menyatakan bahwa tema adalah sesuatu yang menjadi dasar cerita, tema dapat bersinonim dengan ide atau tujuan utama cerita. Tema merupakan gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra dan terkandung di dalam teks sebagai stuktur semantic, serta menyangkut persamaan-persamaan atau perbedaan-perbedaan. Tema menjadi dasar pengembangan seluruh cerita, maka tema bersifat menjiwai seluruh bagian cerita itu.
2. Alur/plot
Menurut Stanton (Nurgiyantoro, 2010:113) alur atau plot adalah cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap urutan kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab akibat, peristiwa yang satu disebabkan atau menyebabkan peristiwa yang lain.
Macam-macam alur:
1) Alur maju adalah peristiwa-peristiwa diutarakan mulai awal sampai akhir/masa kini menuju masa datang.
2) Alur mundur/sorot balik/flash back adalah peristiwa-peristiwa yang menjadi bagian penutup diutarakan terlebih dahulu/masa kini, baru menceritakan peristiwa-peristiwa pokok melalui kenangan/masa lalu salah satu tokoh.
3) Alur gabungan/campuran adalah peristiwa-peristiwa pokok diutarakan. Dalam pengutaraan peristiwa-peristiwa pokok, pembaca diajak mengenang peristiwa-peristiwa yang lampau.
Alur meliputi beberapa tahap:
1) Pengantar, yaitu bagian cerita berupa lukisan, waktu, tempat atau kejadian yang merupakan awal cerita.
2) Penampilan masalah, yaitu bagian yang menceritakan masalah yang dihadapi pelaku cerita.
3) Puncak ketegangan/klimaks, yaitu masalah dalam cerita sudah sangat gawat, konflik telah memuncak.
4) Ketegangan menurun/antiklimaks, yaitu masalah telah berangsur-angsur dapat diatasi dan kekhawatiran mulai hilang.
3. Tokoh dan penokohan
Sering dipergunakan istilah-istilah seperti tokoh dan penokohan,
watak dan perwatakan, atau karakter dan karakterisasi secara bergantian
dengan menunjuk pengertian yang hampir sama dalam pembicaraan fiksi.
Istilah-istilah tersebut sebenarnya tidak menyaran pada pengertian yang
persis sama. Istilah tokoh menunjuk pada orangnya atau pelaku ceritanya,
sedangkan penokohan menunjuk pada sifat dan sikap para tokoh.
4. Latar/setting
Menurut Abrams (Nurgiyantoro, 2010:216), latar atau setting adalah landas tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan. Latar merupakan segala keterangan mengenai waktu, ruang, tempat, dan suasana.
5. Sudut pandang
Sudut pandang pada hakikatnya merupakan strategi, teknik, siasat, yang secara sengaja dipilih pengarang untuk mengemukakan gagasan dan ceritanya (Nurgiyantoro, 2010:248). Segala sesuatu yang dikemukakan dalam karya fiksi memang milik pengarang, pandangan hidup dan tafsirannya terhadap kehidupan. Namun, semuanya itu dalam karya fiksi disalurkan lewat sudut pandang tokoh dan lewat kacamata tokoh cerita. Sudut pandang adalah cara memandang tokoh-tokoh cerita dengan menempatkan dirinya pada posisi tertentu.
6. Amanat
Nurgiyantoro (2010:322) juga mengatakan bahwa amanat adalah pesan atau hikmah yang dapat diambil dari sebuah cerita untuk dijadikan sebagai cermin maupun panduan hidup. Pesan atau nasihat yang ingin disampaikan pengarang melalui karyanya kepada pembaca atau pendengar. Pesan ini berupa harapan, nasehat, kritik, dan sebagainya.
7. Gaya bahasa
Bahasa dalam cerpen memilki peran ganda, bahasa tidak hanya berfungsi sebagai penyampai gagasan pengarang, namun juga sebagai penyampai perasaannya. Menurut Abrams (Nurgiyantoro, 2010:237) gaya bahasa adalah cara pengucapan bahasa dalam prosa, atau bagaimana seseorang pengarang mengungkapkan suatu yang akan dikemukakan. Beberapa cara yang ditempuh oleh pengarang dalam memberdayakan bahasa cerpen ialah dengan menggunakan perbandingan, menghidupkan benda mati, melukiskan sesuatu dengan tidak sewajarnya, dan sebagainya.
ltulah sebabnya, terkadang dalam karya sastra sering dijumpai kalimat- kalimat khas. Nada pada karya sastra merupakan ekspresi jiwa.
Sumber :
https://journal.uncp.ac.id/index.php/onoma/article/viewFile/895/764
Komentar
Posting Komentar